Jun 052013

Nara Sumber : Ustadz Zaenal Ahmad
Penyiar : Miftah Al Firdaus

Setiap orang yang melakukan ibadah haji dan umrah diwajibkan bagi mereka untuk melakukan tawaf wada. Tawaf wada ini adalah sebuah kewajiban bagi setiap jamaah haji dan umrah saat mereka hendak meninggalkan kota suci Makkah. Tawaf  wada hukumnya wajib dalam mazhab Hanafi, Syafi’i, dan Hanbali, kecuali wanita yang haid dan penduduk Makkah.
Kewajiban melaksanakan tawaf wada ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra, yang berkata: “Setiap manusia diperintahkan untuk menjadikan saat terakhirnya di Kota Makkah di sisi Baitullah ( Ka’bah ). Hanya saja, perintah ini tidak ditujukan bagi wanita haid.  ( HR Bukhari dan Muslim ).
Tawaf wada ini adalah sebuah momen yang paling berat dirasakan oleh setiap jamaah. Momen perpisahan dengan Baitullah ini membuat mereka larut dalam suasana sedih bercampur haru dengan penuh harap dan doa semoga Allah SWT memberi kesempatan bagi mereka untuk dapat datang lagi suatu saat ke Baitullah, baik untuk berhaji maupun umrah.
Seperti tawaf yang lain, tawaf wada terdiri atas tujuh putaran yang dilakukan mengelilingi Ka’bah ke arah kiri serta diawali dan disudahi di rukun hajar Aswad. Namun, perbedaannya adalah bahwa dalam tawaf wada tidak disunnahkan melakukan shalat sunah tawaf. Usai mengerjakan tawaf wada, setiap jamaah haji diizinkan untuk meninggalkan Baitullah dengan cara yang wajar tanpa harus berjalan mundur atau sambil menunduk.
Siapa yang tidak menjalani tawaf wada, ia wajib membayar dam sebesar satu ekor kambing, baik disengaja maupun bila terlupa.
Kambing tersebut disembelih di mana saja dan dibagikan kepada kaum fakir yang membutuhkan.
Tawaf wada ini hanya diwajibkan bagi jamaah haji yang tinggal di luar Kota Makkah. Adapun jamaah haji yang tinggal di Kota Makkah, mereka tidak berkewajiban melakukan tawaf wada dan tiada kewajiban bagi mereka untuk membayar dam bila mereka tidak mengerjakannya.

Narasumber     : KBIH MTA Surakarta

  • Ustadz Zaenal Ahmad               (Pembimbing Manasik Ibadah        )
  • dr. Setyo Budi                          (Pembimbing Manasik Kesehatan  )
  • Ir. Abdul Rosyid                        (Ketua KBIH MTA Surakarta           )

Announcer        : Hamzah

Jadwal kelompok terbang calon haji di Surakarta ada 2 kloter, yaitu kloter 3 dan kloter 60. Ada 96 orang tergabung dalam kloter tiga yang akan diberangkatkan pada tanggal 11 Oktober 2010. Kloter selanjutnya adalah kloter 60 yang akan memberangkatkan dua calon jama’ah haji pada tanggal 30 Oktober 2010. Pemberangkatan calon jama’ah haji dimulai dari gedung baru Mangkunegaran Surakarta langsung berlanjut menuju Pemkot Balaikota Surakarta dan  kemudian diberangkat ke Donohudan seperti biasanya.

Continue reading »

Narasumber   : Ustadz Zaenal dan Ustadz dr. Setyobudi
Announcer   : Miftah Al-Firdaus

Larangan-larangan dalam Melaksanakan Ibadah Haji dan Umroh

  1. Tidak boleh berbuat kefasikan dan jidal (perdebatan) saat melaksanakan ibadah haji. Allah berfirman pada Q. S. Al-Baqarah: 197. Saat haji kita harus hati-hati, jangan berbuat rofash, fasik, dan jidal
  2. Orang yang mukhrim atau orang yang sudah berpakaian ikhrom dilarang untuk memakai gamis, sorban, serwal, sepatu, dan wewangian. Sedangkan untuk wanita tidak diperkenankan memakai cadar dan kaos tangan
  3. Disaat memakai pakain ikhrom tidak boleh menikah atau menikahkan dan meminang di sana
  4. Seorang yang mukhrim tidak boleh berburu (Q. S. Al-Maidah: 95)
  5. Tidak diperkenankan mencabut duri di tanah Haram dan barang yang tercecer kecuali untuk mengumumkannya Continue reading »

Narasumber : Dr. Nugroho Imam (KBIH MTA)
Presenter    : Hamzah

Dalam syar`i tidak ada dalil larangan bagi wanita dalam keadaan hamil untuk melaksanaakan ibadah haji. Namun dalam pelaksanaannya, dan dikaitkan dengan kondisi sekarang maka pelaksanaan haji bagi wanita hamil ada ketentuan khusus, karena perjalanan, kesehatan penerbangan dan lain-lain.

  1. Calon jamaah haji dikatakan hamil, setelah melalui proses pemeriksaan oleh dokter sesuai dengan tahapannya.
  2. Continue reading »

Narasumber    : Ustadz Zainal Ahmad (Pembimbing Manasik Ibadah KBIH MTA Surakarta), dr. Setyo Budi (Pembimbing Manasik Kesehatan KBIH MTA Surakarta)
Presenter    : Hamzah

Ustadz Zainal Ahmad (Pembimbing Manasik Ibadah KBIH MTA Surakarta): Melempar Jumroh Aqobah pada tanggal 10 Dzulhijah dan melempar Jumroh Ula Wusta Aqobah pada tanggal 11, 12, 13 Dzulhijah.
Melempar jumroh Aqobah artinya melempar pada 10 Dzulhijah hanya satu jumroh saja yang dilempar dan tanggal 11nya melanjutkan melempar jumroh Ula Wusta Aqobah. Melempar jumroh ini adalah salah satu wajib haji yang harus dilaksanakan, seandainya itu ditinggalkan maka diganti dengan Dam, pada tanggal 11 itu ada tiga sasaran lempar. Jumroh Aqobah yang afdhol untuk melempar adalah setelah waktu Dhuha dan pada tanggal 11 melempar jumroh Ula Wusta Aqobah waktu yang afdhol untuk melempar adalah setelah tergelincir matahari namun para jama’ah boleh melempar dari pagi hari sampai sore hari. Ada tiga yang harus dilempar Ula yaitu ke tembok yang pertama, Wusto adalah tembok yang tengah, dan Aqobah adalah tembok yang terakhir. Nah, Aqobah (yang kemarin sudah dilempar) dilempar lagi. Ula dilempar tujuh lemparan dengan batu kerikil setiap melempar membaca takbir kemudian berdo’a, kemudian meninggalkan Ula menuju ke Wusto (sasaran lempar yang tengah) di situ juga dilempar dengan tujuh lemparan setiap melempar membaca takbir kemudian berdo’a, setelah itu mendatangi Aqobah (yang ketiga)di situ melempar setiap melempar membaca takbir tapi nabi tidak berdo’a, nabi terus pergi.
Pada tanggal 12, sama yang dilakukan seperti pada tanggal 11 dan nanti terus mau kembali ke Mekah disebut Nafar Awal kalau mau diselesaikan sampai tanggal 13nya juga boleh, itu disebut Nafar Sani maka para jama’ah boleh memilih jadi di Mina boleh dua hari boleh tiga hari.

Continue reading »

MELEMPAR JUMROH

Posted by isna at 12:27 pm Seputar Haji
May 152010

Kita tahu bahwa pelaksanaan haji diawali dengan wukuf di Arafah pada tanggal 9 Dulhijah, sedangkan pada tanggal 10 kita melaksanakan lempar Jumroh Aqobah.
Adapun melempar jumroh ada tiga, yaitu Ulaa, Wustho, dan Aqobah. Pada hari tanggal sepuluh itu kita melempar Jumroh Aqobah, sedangkan pada tanggal 11 dan 12 nanti kita melempar Jumroh Ulaa, Wustho, dan Aqobah pada masing masing hari.

Continue reading »

PERSIAPAN WUKUF HAJI

Posted by isna at 6:28 pm Seputar Haji
May 082010

Manasik Ibadah

Setelah peserta haji melaksanakan umroh yang diakhiri dengan tahalul, mereka telah diijinkan untuk melepaskan pakaian ikrom. Kemudian para peserta haji tamatuk menunggu sampai tanggal delapan Dulhijah untuk mulai melaksanakan rangkaian rukun haji. Persiapan ibadah haji pada tanggal itu diantaranya meliputi, mandi untuk ikrom haji, berwudhu, lalu berpakaian ikhrom lagi dengan dua lembar pakaian; izzar dan rida’. Lalu mengucap niat “labaika hajan” lalu berangkat. Dalam perjalanan ini para jamaah dituntunkan untuk banyak membaca kalimat talbiyah. Untuk pmberangkatan ini biasanya ada dua pelaksanaan. Di jaman Rasulullah dulu, para jamaah berangkat pada tanggal delapan dari Mekah, kemudian melewati Minna, Musdalifah dan sampai di Arafah tanggal 9 pagi, atau di jaman sekarang ada yang berangkat dari Mekah langsung ke Arafah.

Continue reading »

TAHALUL UMRAH

Posted by isna at 6:39 pm Seputar Haji
May 012010

Dalam pelaksanaan haji tamatuk dimana umrah dilakukan terlebih dahulu baru kemudian diikuti dengan haji, kegiatan umrah ini nantinya akan diakhiri dengan tahalul. Dengan selesainya tahalul ini maka pelaksana umroh sudah bebas dari larangan ikhram. Tahalul adalah prosesi memotong atau mencukur habis rambut kepala setelah selesai melaksanakan sai. Boleh di potong di marwa boleh juga setelah kembali ke maktab. Pelaksanaannya adalah apabila jamaah haji telah melakukan sai dan mengakhiri lari lari kecilnya di bukit marwah, maka dia bertahalul di bukit tersebut. Lalu kembali lagi ke bukit safa, tetapi perjalanan yang ke delapan ini sudah tidak dihitung lagi. Di safa jamaah boleh berdoa apa saja yang dikehendaki atau apa yang dibuhtuhkannya. Kemudian tahalul lagi/ menggunting rambutnya. Dan selesailah rangkaian ibadah umroh. Para jamaah sudah diperbolehkan memakai pakaian biasa, dan mereka menunggu tanggal delapan duluhijah/ hari tarwiyah, untuk melaksanakan haji, yang diawali dengan ikhram.

Continue reading »

SAI (lanjutan)

Posted by isna at 10:13 am Seputar Haji
Apr 232010

Pelaksanaan Sai adalah berlari kecil antara Safa dan Marwa bolak balik sebanyak tujuh kali. Dalam hadist dijelaskan bahwa Rasulullah berjalan cepat atau berlari kecil di lembah di antara kedua bukit tersebut dan berjalan biasa ketika menaiki bukit Safa maupun Marwa. Tetapi karena saat ini bukit itu sudah diratakan atau dihubungkan oleh jalan yang rata, maka penanda perubahan gerakan berjalan ini ditandai oleh lampu hijau. Dan ketika tiba di puncak puncak bukit tersebut kita bertawaf di puncak bukit sebelum kembali ke puncak bukit yang lainnya. Saat inipun kita dituntunkan untuk memperbanyak doa

Continue reading »

PELAKSANAAN SA’I

Posted by isna at 6:14 pm Seputar Haji
Apr 172010

MANASIK IBADAH

Sa’i adalah perjalanan  yang ditempuh antara Shofa dan Marwa sebanyak tujuh kali yang dilaksanakan setelah tawaf. Sebelum  sai, nabi pernah melaksanakan sholat di maqam Ibrahim. Walaupun sholat ini bersifat sunnah, tetapi sebaiknya kita tidak meninggalkan sunnah yang pernah dilaksaaka oleh Rasulullah. Sholat ini dilaksanakan sebanyak dua rakaat.

Sholat di maqam Ibrahim dulu berada di sisi Ka’bah, tetapi sekarang agak dijauhkan supaya tidak mengganggu orang orang yang tawaf. Maka dijadikan sholat di maqam Ibrahim itu adalah di depan maqam, di antara maqam tersebut dan Ka’bah. Adapun bacaan yang dituntunkan untuk dibaca dalam sholat tersebut adalah pada rakaat pertama membaca surat Al Kafirun dan pada rakaat kedua membaca surat Al Ikhlas.

Continue reading »

© 2008 mtafm Suffusion theme by Sayontan Sinha