Announcer : Tommy Al-Fathoni Narasumber : Ust. Ahmadi
Al Baqarah: 19
أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ
وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ
الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ ۚ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ
2:19. atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.
Ayat tersebut di atas perlu kita perhatikan sebagai kelanjutan dari ayat sebelumnya yang membahas tentang orang munafi. Orang munafik dikatakan dhohirnya mengaku beriman tapi sebenarnya hatinya kafir. Allah mengibaratkan mereka pada ayat tersebut yaitu bagaimana perasaan dan jiwa mereka ketika Al-Qur’an sampai kepada mereka. Orang-orang kafir langsung menolak (tidak mau menerima) apa yang sampai pada mereka, sehingga peringatan sampai maupun tidak sampai bagi mereka sama saja, mereka tidak akan mengerti kebenaran mereka sendiri dan tidak bisa kembali kepada fitroh kebenaran mereka.
Allah berbicara tentang orang munafik. Allah mengumpamakan sifat, perbuatan, perasaan, jiwa yang dialami pada orang munafik. Mata mereka melihat, telinga mereka mendengar, tetapi hati mereka tidak bisa memahami.











ass,al ustad bagaimana orang meninggal waktu masih nidup kadang solat kadang tidak apakah masih bisa temasuk orang muslim ? menurut hadis yang membedakan islam seseorang dengan orang kafir adalah solatnya,……….mhn tanggapannya wasalam