Pelaksanaan Sai adalah berlari kecil antara Safa dan Marwa bolak balik sebanyak tujuh kali. Dalam hadist dijelaskan bahwa Rasulullah berjalan cepat atau berlari kecil di lembah di antara kedua bukit tersebut dan berjalan biasa ketika menaiki bukit Safa maupun Marwa. Tetapi karena saat ini bukit itu sudah diratakan atau dihubungkan oleh jalan yang rata, maka penanda perubahan gerakan berjalan ini ditandai oleh lampu hijau. Dan ketika tiba di puncak puncak bukit tersebut kita bertawaf di puncak bukit sebelum kembali ke puncak bukit yang lainnya. Saat inipun kita dituntunkan untuk memperbanyak doa
Pada pertemuan kali ini kita akan membahas tentang penyakit jantung yang menyebabkan tidak isitho’ahnya seseorang untuk melaksanakan ibadah haji. Ada berbagai macam penyakit jantung, ada penyakit jantung rematik, jantung lemah, jantung koroner dan sebagainya. Kalau pada penyakit tersebut masih bisa dilakukan pengobatan, maka calon jamaah haji masih memungkinkan untuk diberangkatkan. Tetapi kalau sekiranya sudah susah diobati maka itu menyebabkan ketidakistitoahannya. Bagi penderita penyakit jantung koroner, disarankan untuk bisa melaksanakan pengobatan secara rutin agar nanti memungkinkan untuk diberangkatkan.
PEMBINAAN
Di KBIH MTA selain diberikan pembinaan bagi para jemaah haji selama masa manasik di tanah air, juga diberikan pembinaan selama berada di Arab Saudi, diantara pembinaan yang diberikan adalah mengenai ibadah seperti yang disampaikan ustad tadi, juga pembinaan masalah kesehatan oleh tim dokter serta pembinaan masalah kelengkapan dan perbekalan bagi para calon jamaah. Tujuan dari pembekalan ini sendiri adalah untuk menyiapkan mental para calon jamaah supaya tidak terlalu tertekan dengan bayangan beratnya kegiatan. Maka dalam pembinaan ini para pembina memberikan pemahaman yang mudah dan ringan bagi para jemaah. Pembinaan di sini ada yang sifatnya teoritis dan ada juga yang praktek. Para calon jamaah haji juga mendapatkan penjelasan mengenai pola pemberangkatan. Misalkan untuk gelombang pertama berangkat langsung ke Jedah, lalu ke Madinah, lalu ke Mekah dan kembali ke tanah air. Gelombang dua berangkat ke jedah, lalu ke Mekah, lalu berangkat ke Madinah, kemudian mengenai perbekalan, yang perlu dipersiapkan oleh para calon jamaah haji untuk keperluan hidup dan keperluan ibadah selama dalam perjalanan tersebut. Begitu juga mengenai pola kehidupan, para calon jamaah haji dilatih untuk hidup dalam kebersamaan dengan pemimpin yang memandu mereka.
TANYA
Ustadz, apkah untuk melaksanakan ibadah haji itu ada batasan umur? Kalau sudah 66 tahun apakah masih boleh? Yang kedua apakah saat tidurpun harus mengenakan pakaian ikhrom? Yangketiga apakah rukun haji harus dilaksanakan secara urut?
JAWAB
Secara syariat tidak ada batasan usia dalam melaksanakan ibadah. Tetapi karena pada umumnya orang yang berangkat haji itu sudah lanjut dan bahkan banyak yang meninggal di sana, maka kemarin pemerintah Saudi membuat wacana agar yang berangkat haji tidak lebih dari 65 tahun. Tetapi selama inipun yang lebih tua dari itu juga masih boleh berangkat. Sedangkan mengenai pakaian ikhram, selama belum tahalul maka harus dipakai terus. Sedangkan tentang rukun haji memang harus dilakukan secara urut. Kalau dari segi kesehatan, tentu saja bagi mereka yang sudah berusia lebih dari 40 tahun, maka akan dilakukan pemeriksaan dengan lebih ketat. Yang menjadi patokan di sini adalah kesehatan calon jamaah.
TANYA
Ustadz saya tanggal 20 kemarin suntik vaksin meningitis dan influenza untuk umroh, tetapi kemudian sakit batuk dan belum sembuh sampai sekarang. Kira kira apa penyebabnya?
JAWAB
Batuk bisa berasal dari paru paru, dan ada juga yang dipicu oleh gangguan pada jantung. Kalau tidak sembuh-sembuh itu memang karena penyebabnya belum tuntas, terutama jika penyebabnya karena kuman. Kalau batuk tidak sembuh setelah dua minggu, maka ada kemungkinan terkena kuman TBC, maka harus dilakukan pemeriksaan riak.
TANYA
apakah benar jika kita mandi agak malam bisa menyebabkan reumatik atau keropos tulang? Dan jika kita melaksanakan tawaf sunnah apakah begitu masuk masjid harus tawaf, ataukah boleh setelah melaksanakan sholat wajib?
JAWAB
Mandi sore atau malam tidak ada hubungannya dengan reumatik atau keropos tulang. Memang ada orang yang kalau mandi malam merasa linu atau kedinginan yang berat sehingga merasa sakit. Tetapi itu tidak ada hubungannya dengan keropos tulang. Sedangkan waktu tawaf sunnah itu tidak ada ketentuan waktu. Bisa dilaksanakan kapan saja.












Komentar Anda